Minggu, 06 April 2014

Konflik dan Integrasi Sosiologi SMA

I.     Konflik
A.  Pengertian Konflik
Menurut Dr. Robert MZ Lawang, konflik adalah perjuangan memperoleh nilai, status, kekuasaan, di mana mereka yang berkonflik tidak hanya memperoleh keuntungan tetapi juga untuk menundukkan saingannya.
Menurut Dahrendrof bahwa masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan konsensus. Dan konflik pada kenyataannya tidak semata hanya menimbulkan perpecahan namun juga membangun rasa persatuan disisi yang lain. Konsensus adalah sebuah frase untuk menghasilkan atau menjadikan sebuah kesepakatan yang disetujui secara bersama-sama antarkelompok atau individu setelah adanya perdebatan dan penelitian yang dilakukan dalam kolektif intelijen untuk mendapatkan konsensus pengambilan keputusan.

B.  Faktor-faktor Penyebab Konflik
1.    Perbedaan Antarindividu
Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda. Artinya bahwa tiap manusia memiliki perasaan, pendapat, ide ataupun identitas yang tidak sama. (Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur)
2.    Perbedaan Latar Belakang Budaya
Setiap masyarakat memiliki seperangkat nilai dan norma yang belum tentu sama. Satu daerah dengan daerah yang lain pasti juga memiliki kekhasannya sendiri. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. (Konflik antara etnis Dayak dan Madura)
3.    Perbedaan Kepentingan
Setiap individu atau kelompok sering kali memiliki perbedaan kepentingan dengan yang lain. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan.
4.    Perubahan Nilai Sosial
Masyarakat akan selalu mengalami perubahan. Hanya saja perubahan yang demikian cepat tanpa diimbangi kemampuan adaptasi yang baik akan menimbulkan konflik dalam tubuh masyarakat. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri.

C.  Macam-macam Konflik
1.    Konflik Individu
Konflik ini terjadi antara individu yang satu dengan individu yang lain. Hal ini disebabkan oleh benturan kepentingan.
2.    Konflik Politik
Konflik ini terjadi apabila satu kelompok dengan kelompok yang lain memiliki kepentingan yang sama dalam bidang politik (hal-hal yang menyangkut masalah kenegaraan).
3.    Konflik Antarkelas Sosial
Adanya mobiltas sosial menyebabkan masuknya individu-individu ke dalam kelas-kelas sosial. Hal itu berarti akan membawa perubahan dalam kelas sosial, baik kelas yang tinggi, ke;as menengah, maupun kelas terendah.
4.    Konflik Antarkelompok Sosial
Terjadinya mobilitas sosial disebabkan oleh salah satu kelompok yang berusaha menguasai kelompok yang lain. Gejala itu antara lain tampak dari tuntunan prlakuan baru antarkelompok sosial akan ada hak dan kewajibannya. Dengan demikian, terjadilah persaingan antar kelompok sosial untuk merebut dominasi dan penindasan terhadap suatu kelompok sosial oleh kelompok sosial lainnya.
5.    Konflik Antargenerasi
Adanya mobilitas sosial dapat menyebabkan pergeseran hubungan antara generasi satu dengan generasi yang lain.
6.    Konflik Internasional
Konflik ini terjadi apabila antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain terjadi benturan kepentingan.
7.    Konflik Antarpenganut Agama
Dalam hubungan antarpenganut agama, mungkin saja timbul kesalahpahaman karena sikap prasangka negative dari penganut agama yang satu terhadap yang lain.

D.  Bentuk-bentuk Konflik Berdasarkan Sifatnya
1.    Konflik Destruktif
Konflik yang muncul karena perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelompok terhadap pihak lain. Contoh konflik Ambon. 
2.    Konflik Konstruktif
Konflik karena ada perbedaan pendapat dari kelompok dalam menghadapi suatu permasalahan tapi konflik ini melahirkan suatu consensus dari perbedaan tersebut dan menghasilkan suatu perbaikan. Missal dalam suatu organisasi.

E.  Berdasarkan Sifat Pelaku
1.    Konflik Tertutup. Merupakan konflik yang diketahui oleh orang-orang yang terlibat konflik saja.
2.    Konflik Terbuka. Konflik yang diketahui oleh semua pihak.

F.   Cara Pengendalian Konflik
1.  Konsiliasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial yang dilakukan melalui lembaga-lembaga tertentu yang dapat memberikan keputusan secara adil.
2.  Mediasi. Pengendalian konflik melalui mediasi dilaksanakan apabila kedua belah pihak yang terlibat konflik bersama-sama sepakat untuk menunjuk pihak ketiga yang akan memberikan nasihat-nasihat tentang bagaimana baiknya suatu masalah diselesaikan.
3.  Arbritasi. Bentuk pengendalian konflik dengan menyerahkan penyelesaianya pada pihak ketiga. Disini kedua belah pihak yang bertikai berkewajiban menaati keputusan pihak ketiga.
4.    Adjudication adalah bentuk penyelesaian konflik melalui pengadilan.
5.  Segregasi adalah upaya untuk saling menghindar di antara pihak-pihak yang berkonflik dengan tujuan mengurang ketegangan
6. Gencatan senjata adalah pangguhan konflik untuk jangka waktu tertentu sambil mengupayakan terselenggaranya penyelesaiian konflik.
7. Kompromi adalah upaya meredakan konflik dengan jalan kedua pihak saling mengalah dan saling mengurangi tuntutan masing-masing.
8.    Koersi adalah cara meredakan atau menanggulangi konflik dengan jalan kekerasa atau paksaan.
9.   Stalement adalah menyadari akan kekuatan yang seimbang sehingga kalau diteruskan tidak aka nada yang menang dan kalah.

II.     INTEGRASI SOSIAL
A.  Pengertian Integrasi
1.    Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu
2.    Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu. 
Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Integrasi sosial mempunyai arti sebagai suatu proses penyatuan dua unsur budaya atau lebih, yang mengakibatkan tercapainya suatu keinginan yang berjalan secara baik dan benar.

B.  Bentuk Integrasi Sosisal
a.    Asimilasi, yaitu proses peleburan dua unsure budaya atau lebih sehingga membentuk satu kebudayaan baru yang berbeda dengan kebudayaan asli. Contohnya: perkawinan antar dua ras yang berbeda (amalgamasi)
b.    Akulturasi, yaitu pencampuran dua unsure budaya atau lebih sehingga menghasilkan kebudayaan baru namun tidak menghilangkan kepribadian kebudayaan asli. Contohnya: Baju pernikahan suku betawi campuran antara budaya melayu, Arab dan China.

Faktor-faktor Pendorong Intergrasi Sosial
a.    Homogenitas
b.    Besar kecilnya kelompok

c.    Mobilitas geografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar